Selasa, 03 Oktober 2017

Istimewa Itu Tak Harus Mewah

Pagi itu terasa berbeda ketika akan melakukan perjalanan menuju Kecamatan Panggul, Trenggalek dari Tulungagung. Langit layu, tetesan air mulai turun menemani perjalanan sejak dari Durenan, Trenggalek. Cuaca yang seperti itu justru memberikan kesan yang tak terlupakan karena kesyahduan yang ditawarkan sepanjang perjalanan. Kesan itu berlanjut hingga perjalanan dari Wonocoyo, ibu kota Kecamatan Panggul menuju Desa Manggis. Perjalanan yang terasa panjang itu masih harus ditambahkan kembali dalam perhitungan waktu. Sekitar 15-20 menit kemudian akhirnya sampai di Desa Manggis.
Dulu, sebelum KKN (Kuliah Kerja Nyata) IAIN Tulungagung dilaksanakan, saya bertanya-tanya “Panggul itu seperti apa?” Mayoritas orang akan berpikir bahwa Panggul itu “ndeso” baik dalam masyarakatnya maupun pemikirannya. Saya sempat melakukan riset kecil yaitu mencari tahu letak Panggul di dalam peta. Dalam benak saya, daerah ini pasti akan menantang sekali karena daerah ini berada di bagian Selatan Kabupaten Trenggalek dan dikenal sebagai daerah rendah menuju pantai. Pantai lho, iya, pantai. Jadi, kalau kamu mau petualangan di gunung, pantai, menikmati keramahan masyarakat, kehangatan sambutan mereka, dan merasakan kehidupan desa yang masih benar-benar terjaga, kamu harus kesini.
Desa Manggis adalah desa yang istimewa bagi saya. Sekitar dua per tiga wilayahnya adalah dataran tinggi dengan beragam tingkat kecuramannya. Terdiri dari tiga dusun yang menjadi penyangganya yaitu Dusun Krajan yang menjadi pusat pemerintahan, Dusun Petung, dan Dusun Pagerwatu yang berada di dataran tinggi. Pertama kali menginjakkan jejak di desa ini, satu kata yang bisa terucap yaitu ISTIMEWA. Ungkapan itu tidak berlebihan. Bagi saya, keistimewaan desa ini ada di beberapa aspek. Aspek pertama dan yang paling saya sukai adalah keistimewaannya dalam bertetangga. Ini lah yang jarang saya temukan di daerah-daerah lain di jaman sekarang. Keistimewaan kehidupan bertetangga ini begitu kental terasa, misalnya pada saat salah satu dari mereka memiliki hajat baik kecil maupun besar, mereka akan dengan senang hati mengundang dan berbagi. Kemudian, saat salah satu ada kesulitan, maka yang lain akan dengan ringan tangan membantu. “Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, keluarga, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga jauh” (QS Al-Nisa (44): 36). Hidup bersahaja dengan berbagi dan bertetangga. Sederhana tapi memberikan kesan luar biasa.
Keistimewaan kedua adalah semangat anak-anak Desa Manggis yang meski dengan keterbatasan disertai akses jalan yang bagi saya cukup menguras keringat, tapi mereka sangat antusias dalam belajar baik di sekolah maupun di TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an). Dengan belajar, mereka berharap bisa membaca dan mampu bersyahadat ketika meninggal dunia. Masya Allah. Harapan yang sederhana, tetapi justru itu yang sangat bernilai. Ketika kami membuka bimbingan belajar untuk SD di posko, sepulang sekolah, mereka berbondong-bondong datang berboncengan naik sepeda maupun jalan kaki. Kagumnya, mereka yang datang bukan hanya yang bertempat tinggal disekitar posko, tetapi juga dari RT-RT lain yang jaraknya lumayan.
 Meski berada di desa yang bisa dibilang jauh dari hiruk pikuk kehidupan gemerlap perkotaan, kesadaran akan kesehatan dari indikator tingkat kepercayaan masyarakat dan pelayanan tenaga kesehatan yang memadai adalah baik. Saya kagum dengan semangat para tenaga kesehatan khususnya dari bidan desa, asisten bidan desa dan perawat desa dalam kepekaan sosial dan ketanggapannya melayani masyarakat. Dengan telaten, para tenaga medis desa memberikan pelayanan maksimal bagi masyarakat. Posyandu berjalan baik setiap bulan, para kader posyandu pun semangat dalam menjalankan program mereka. Tidak hanya itu, screening kesehatan untuk anak-anak sekolah pun dilakukan dengan baik dan terjadwal. Keramahan dan senyum yang tak pernah hilang dari raut para tenaga medis menurut saya menjadi salah satu motivasi tersendiri hingga masyarakat merasa nyaman berinteraksi.
Pernahkah membayangkan bagaimana kondisi para lansia di desa ini? Mereka kuat, sehat, dan murah senyum. Bahkan ada yang terheran-heran melihat ada lansia yang berlari ketika menuruni jalan raya. Kehangatan senyuman, saya rasa itu lah rahasia mereka. Kehidupan bertetangga yang sehat, memupuk tali persaudaraan yang kokoh, hidup menjadi indah, tanpa beban, tanpa keluhan. Karenanya mereka senang sekali membantu, tersenyum, dan bersyukur.
Maka, keistimewaan ini jangan sampai luluh dan pudar oleh kekuatan perubahan jaman. Yogyakarta istimewa karena kearifan lokal yang masih menjunjung tinggi keraton dan budaya Jawa, tapi Desa Manggis memiliki segala keistimewaan itu. Tugas kita bersama adalah terus memegangnya, memperdayakan masyarakatnya, mengenalkan potensi daerahnya, dan memajukan daerahnya dengan pendidikan dan ekonomi sektor pariwisata yang utama. Potensi itu ada, hanya kendala pada pemanfaatan dan keterbukaan pikiran masyarakat khususnya pemerintah desa. Anak-anak desa ini membutuhkan perhatian. Mereka memiliki modal semangat belajar, sehingga ketika hal ini difasilitasi dan diperhatikan tentu akan menghasilkan generasi gemilang pada akhirnya. Mereka juga memiliki modal kreatifittas dalam menciptakan permainan tradisional. Maka ketika semua hal ini bisa dilestarikan dan ditambahkan dengan kondisi masyarakat yang masih terjaga kebudayaannya, desa ini bisa menjadi salah satu destinasi wisata yang harus dicoba oleh para wisatawan untuk belajar budaya ketimuran Indonesia. Karena istimewa itu tak harus mewah, cukup jaga ciri khas itu, lestarikan, dan “viral”kan.
Manggis, Panggul, Trenggalek
Dari kehangatan dekapan ukhuwah
KKN IAIN Tulungagung 2017

Upacara 17 Agustus di Puncak Senggani, Desa Manggis

Grup Jaranan Desa Manggis

Sosialisasi

Gerak Jalan Lansia Desa Manggis

Minggu, 07 Mei 2017

Petualangan Meraih Bintang

Aqila (9 tahun) adalah anak yang sangat gandrung pada sains namun kurang punya minat belajar Al Qur’an.  Aqila memiliki seorang kakek yang berprofesi sebagai astronom dan tinggal di Pusat Peneropongan Bintang Boscha. Aqila bermaksud membuat tugas sekolahnya yang berhubungan dengan astronomi, Kakeknya memberi izin pada Aqila untuk menggunakan teropong bintang di Boscha untuk menyelesaikan tugasnya, namun dengan satu syarat: Aqila harus bisa membaca Al Qur’an. Aqila menyanggupinya. Saat di rumah kakeknya Aqila bertemu Ros, anak dari seorang pembantu di sana. Ros mengajaknya bermain di sebuah masjid.  Di masjid inilah Aqila belajar membaca Al Qur’an dengan metode Iqro, yang fun, berirama dan dibawakan secara ringan. Pengalaman Aqila belajar Al Qur’an dan teladan dari kakeknya Inilah yang  menggugah mata hatinya, tentang kebesaran Allah SWT yang menciptakan alam semesta.

Film IQRO
Di atas adalah synopsis dari film IQRO: Petualangan Meraih Bintang yang diproduksi oleh Masjid Salman ITB dan Salman Film Academy, karya sutradara Iqbal Alfajri. Film tersebut mulai tayang di bioskop Indonesia pada tanggal 26 Januari 2017. Film yang cukup menyita perhatian saya karena membawa jalan cerita yang sederhana tapi dengan nasehat yang luar biasa. Dan benar saja, Alhamdulillah mendapat kesempatan untuk bisa menikmati film ini di Golden Theatre Tulungagung, sebuah nonton bareng (nobar) yang diselenggarakan oleh Pena Ananda Club bersama anak yatim, saya dibuat menitikkan air mata dengan cerita dan murottal yang menghiasi film tersebut.


Salah Satu Adegan dalam Film IQRO

Suasana Seusai Nobar

Suasana Seusai Nobar
Bagi saya, film ini bukan sekedar film yang memberikan hiburan, tetapi juga tuntunan yang baik terutama untuk anak dan keluarga untuk terus belajar dan tidak lupa dengan ibadah. Selain itu, film ini mengajarkan untuk berbuat baik pada sesama dan kepada orang yang lebih tua.

“Kamu tahu Aqila bagaimana ibumu bisa mendapatkan nilai baik di sekolah? Rahasianya adalah shalat subuh. Setiap setelah shalat subuh, ibumu akan belajar, dan belajar pada saat itu adalah waktu terbaik karena pikiran masih fresh sehingga ilmu akan lebih mudah dikuasai.”
Kurang lebih seperti itu, dialog yang paling berkesan yang selalu saya ingat.

Anyway, ini film recommended banget. Karena ilmu itu harus dijemput bukan ditunggu. Yahya bin Abi Katsir Al-Yamani berkata: “Ilmu itu tidak bisa didapat dengan jasmani yang santai.” (Riwayat Muslim dalam kitab Masajid Bab Auqat Ash-Shalawat Al-Khams, lihat Jami’ Bayanil ‘Ilmi dengan tahqiq Abul Asybal no. 553).

Sabtu, 03 Desember 2016

Tak Mudah Tapi Harus


Ini adalah kisah dimana saya pertama kali melakukan sesuatu yang baru selama saya ikut bergabung di Kelas Inspirasi Tulungagung, yaitu menjadi Relawan Fasilitator. Sebelum-sebelumnya saya hanya berkutat menjadi Relawan Dokumentator sebagai Fotografer. Di Kelas Inspirasi Tulungagung ke 4 ini entah mengapa saya memilih untuk berpindah haluan. Pertama, karena saya ingin lebih mendalami Kelas Inspirasi. Kedua dan juga sangat mendukung keputusan saya yaitu karena kamera yang biasa menemani saya sedang berada jauh dari saya. Yes, ini adalah keputusan yang terbaik.
Tulungagung
(Sumber: "Indonesia Tanah Airku" STTV)
Tulungagung
(Sumber: "Indonesia Tanah Airku" STTV)

Di hari pertama ditentukan sebagai Relawan Fasilitator dan dikelompokkan dalam rombel (rombongan belajar) SDN Kedoyo 4 adalah hari dimana saya sempat bingung karena saya sama sekali belum kenal dengan orang-orang yang tergabung di dalamnya. Baik Mas Hanif maupun Mbak Yunida sebagai kawan sesama Relawan Fasilitator sekalipun. Ditambah lagi dengan Mas Dimas, Pak Suparno, Mbak Hapsari, Mbak Mita, Mas Rasyid, Om Endro, dan Mbak Nita yang kesemuanya begitu asing bagi saya. 
Akses menuju SDN Kedoyo 4
(Sumber: "Indonesia Tanah Airku" STTV)

SDN Kedoyo 4
(Sumber: "Indonesia Tanah Airku" STTV)

Dan cerita ini dimulai dari sini. Dari ketidak-kenalan itu, akhirnya saya memberanikan diri untuk menyapa mereka semua. Mas Hanif dan Mbak Yunida sebagai kawan sesama fasilitator terlebih dahulu karena bersama mereka, di kemudian hari setelah penentuan rombel itu lah kami survey ke SDN Kedoyo 4 sebagai fiksasi sebagai SD sasaran dalam Kelas Inspiasi Tulungagung 4 ini. Bergeser kemudian giliran menghubungi para Relawan Inspirator dan Dokumentator. Deal, akhirnya semua masuk dalam sebuah grup di WhatsApp.
10 orang berada dalam grup itu. Deg, saya langsung bingung apa yang seharusnya saya katakan pada mereka untuk pembukaan. Ini bukan perkara yang mudah. Jujur, meski sebelumnya saya berpengalaman dalam grup-grup WhatsApp lain tapi ini beda banget. Seperti ada sesuatu yang membuat saya takut untuk mulai. Disela-sela kegiatan saya di kampus, saya menyapa mereka semua dengan kalimat pengantar sebagai perkenalan. Dan boom, ternyata mereka antusias. Semangat itu tiba-tba datang dan membuat hari-hari saya menjadi begitu berbeda karena tidak pernah lepas dari smartphone semenjak itu.
Orang-orang dalam rombel SDN Kedoyo 4 ini pada dasarnya adalah orang-orang yang friendly, tidak pelit dengan ilmu, dan terbuka dengan siapapun. Terbukti dengan bahasa dan keramahan mereka ketika saya mencoba untuk menghubungi mereka satu-satu melalui private chat di WhatsApp. Tapi, hal yang paling membuat buthek (tidak jelas) pikiran adalah ketika pembicaraan berhenti seperti karena tidak ada relawan Inspirator maupun Dokumentator yang menanggapi atau pun karena Fasilitator kebingungan untuk membuka topik yang bisa membuat mereka semua terpancing untuk menanggapi. Ini sangat meracun pikiran. Ternyata tidak mudah untuk membuat orang lain tertarik dengan apa yang sedang kita bahas. Beruntung, ada Mas Dimas salah satu relawan Inspirator rombel saya yang dengan baik mau membagikan ilmunya tentang hal ini, tentang komunikasi.
Ternyata, untuk mengoprak-oprak (membangunkan) orang dari kesunyian itu tidak mudah. Membangunkan diri sendiri dari malas saja susah apalagi orang lain, terlebih jika orang-orang tersebut belum kita kenal dengan baik. Dan ya, ini lah yang terjadi pada saya. Di satu sisi Fasilitator dituntut untuk segera menyelesaikan apa yang menjadi tanggungan rombel sebelum hari Inspirasi, namun di sisi lain ada relawan Inspirator dan Dokumentator dengan kesibukannya masing-masing yang sepertinya membutuhkan lebih banyak perhatian dari para relawan Fasilitator ini. Luar biasa, menjadi Fasilitator itu tidak semudah yang saya bayangkan sebelumnya.
Hari briefing Kelas Inspirasi Tulungagung 4 adalah hari dimana rombel ini untuk pertama kalinya bertemu dan berdiskusi secara langsung. Bayangkan, pertama kali ketemu dan langsung membahas hal yang sangat urgent yaitu untuk hari Inspirasi. Beruntung, sejak saat itu saya merasa sudah mengenal mereka jauh sebelum itu sehingga atmosfer yang terjadi di pertemuan itu menjadi mengalir begitu saja. Komunikasi menjadi lebih enak dan menjadi lebih intens. 

Adik-adik SDN Kedoyo 4
Hari Inspirasi, hari Senin, 14 November 2016, hari yang ditunggu-tunggu. Mas Hanif, Mas Dimas, Mbak Hapsari, dan Mbak Mita memutuskan untuk menginap di Villa “Telaga Aqua” di Desa Geger, Sendang. Sedangkan saya, Mbak Yunida, dan Mas Rasyid berangkat pukul 05.00 WIB dari rumah menuju SDN Kedoyo 4 dan Pak Suparno berangkat dari kediaman teman di Sendang. Sedih menghinggapi, tatkala 2 relawan Dokumentator yaitu Om Endro dan Mbak Nita berhalangan hadir karena sesuatu hal. Ketika itu saya sempat down karena dalam posisi kekurangan Dokumentator, beruntung ada rekan dari STTV yang sedang bertugas meliput sehingga kami seolah mendapat pencerahan karena mereka dapat menjadi rekan untuk mendokumentasikan kegiatan.

Rombel KITa4 SDN Kedoyo 4
Masalah kembali muncul, ketika apa yang sudah direncakan yaitu matrik untuk relawan Inspirator berpindah-pindah kelas sesuai dengan jadwalnya masing-masing harus dirombak habis-habisan di tengah jalan. Kondisi akhirnya mengizinkan. Bersyukur sekali ada Mas Hanif dan Mbak Yunida yang lebih dewasa dan lebih mengerti. Saya mah apa atuh. Hanya seorang anak kecil yang berusaha untuk mengerti. Yaa, saya merasa kurang sekali, ilmunya sedikit. Thanks a lot semuanya.

Hadapilah maka kamu akan menang
Tidak lama setelah selesai acara di sekolah, ketika menuju lokasi Refleksi, malang kembali menyapa seolah tak membiarkan kita move on, sombong, dan Tuhan ingin kita sebagai satu rombel ini untuk menjalin kebersamaan lebih. Apa itu? Kendaraan salah satu relawan mengalami masalah. Cukup satu kali? Tidak. Dua kali mengalami masalah. Kondisi yang saatu itu hujan dan kondisi jalan yang tidak terbayangkan, kami harus mengalami ini. Saya harus mengakui dan harus banyak bersyukur. Tuhan selalu memiliki rencana yang indah yang terbaik untuk kita. Dan ini yang terbaik. Ini yang terindah.
Bersama
Sesampainya di lokasi Refleksi, semua sudah bubar. Tersisa beberapa relawan panitia yang sedang merapikan lokasi. Sedih, tetapi bahagia. Sedih karena kami tidak bisa ikut Refleksi. Bahagia karena rombel kami bisa lebih mengenal dan berjuang bersama. Dan yang paling penting, kami disambut oleh para relawan panitia karena mereka sudah berjam-jam menunggu kabar dari kami yang lost contact ini. Pecaaaaah, unbelievable and unforgettable moment.


Catatan KITa4 Experience - Husniati Salma, Fasilitator


Jumat, 19 Agustus 2016

Teknologi dan Membaca

Akhirnya mengikuti perjalanan yang penuh dengan ilmu baru.  Perjalanan tersebut dimulai ketika saya menginjakan kaki di sebuah stasiun kereta api yang berada di salah satu daerahdi Jawa Timur. Iya, kereta tersebut akan membawa saya ke suatu daerah yang dikenal orang dengan keistimewaannya. Satu-satunya daerah yang diizinkan pemerintah iuntuk menyanddangkan status daerah istimewa dalam pemerintahannya.

Ada beberapa peristiwa sebenarnya, namun kali ini saya akan menceritakan sala satu peristiwa yang terjadi saat saya melakukan perjalanan pulang dari daerah istimewa tersebut.

Pagi hari saya ditemani sahabat menuju stasiun besar, saya melihat banyak sekali para wisatawan mancanegara (wisman) yang sejenak membuat saya bertanya-tanya, "Mereka mau kemana?". Saya menanyakan hal ini kepada sahabat saya, namun ia juga menanyakan hal yang sama dibenaknya. Mengapa hingga demikian? Karena ini tidak biasanya terjadi sselama saya beberapa kali melakukan perjalanan di daerah itu. kali ini saya mendapatkan pemandangan yang tidak biasa.

Dan pertanyaan itu terjawab ketika masuk di dalam gerbong kereta. Salah seorang diantara kami (para penumpang lokal KA tersebut) membuka pembicaraan dengan para wisman yang duduk dihadapannya. Dari situ didapatkan bahwa mereka akan pergi ke G.Bromo via Malang. Wisman tersebut menceritakan pengalamannya menjelajah beberapa negara sebelumnya sebelum akhirnya menjelajah Indonesia Wisman tersebut menyukai Indonesia dengan keramahan masyarakat dan keindahan alamnya. 

Wisman dan Bukunya

Hal baru yang saya temukan dari pengamatan hehe mereka membawa buku. Iya, buku lhoo. Buku apa? Buku wajib mereka saat mengunjungi suatu negara adalah buku panduan pariwisata negara tujuan yang tertulis dalam bahasa Inggris atau bahasa mereka misalnya Jerman, dan sebagainya. Kemudian buku lain adalah buku seperti novel, pengetahuan, dan lainnya. Mereka terlihat sangat suka membawa. Bahkan ada yang membawa hingga lebih dari 3 buku dalam suatu perjalanan. Mereka tidak hanya membawa, tetapi juga membacannya

Ini. Ini yang tidak selalu saya jumpai di negeri sendiri. Bukan bermaksud apa-apa tetapi ini realita yang ada. Saya memang pernah menjumpai orang yang ketika menunggu atau naik kendaraan umum, mereka akan membaca buku. Iya, tetapi "jarang." 

Bukan mau menyalahkan atau apa, saya juga ikut dalam usaha membudayakan membaca lewat suatu komunitas di daerah tempat saya tinggal. Dan terasa sekali perjuangannya. Tidak mudah, karena jaman yang memang sudah mulai berubah dengan adanya perkembangan signifikan dalam bidang teknologo. "Seolah" buku cetak tergantikan dengan adanya smarphone yang bisa menyimpan lebih banyak buku dalam bentuk elekttoik atau yang biasa disebut "e-book".

Melalui studi kunjungan yang saya lakukan bersama komunitas yang saya ikuti di suatu daerah dimana sekolahnya memanfaatkan teknologi untuk pembelajarannya, saya mendapat pesan seperti ini, "duania memang sudah muklai berubah, dimana kita masuk di era paperless. Kita tidak bisa menyalahkan perkembangan teknologi, yang harus kita lakukan adalah memanfaatkannya dengan baik. Handphone ini sangat mudah menjerumuskan kita dalam hal keburukan, maka tugas kita sekarang adalah bagaimana membuatnya membawa kita dalam kebaikan."

Dua kisah yang memiiki kaitan. Dua kisah yang memberikan inspirasi. Sampai sekarang oun saya masih terus belajar untuk hal ini. Dari pengalaman ini, saya ingin berbagi dengan semuanya. karena ilmu yang baik adalah ilmu yang bisa memberikan manfaat untuk orang lain. Yaa, kali saja, kisah saya bisa membawa kebaikan, paling tidak, kita bisa membacanya bersama-sama hehe.

Oh iyaa, maafkan saya jika kurang dalam mengupdate blog saya ini. Tulisan-tulisan saya tetap bisa dibaca dan diikuti di social media saya kok :D

Terima kasih kepada Anda yang masih stia dengan blog saya yang sederhana ini. Terakhir, dirgahayu Republik Indonesia yang ke-71. ^_^

-HS-

Jumat, 05 Agustus 2016

Ketika Pendidikan dan Kreativitas Berjalan Bersama

Cerita berawal dari pertemuan bersama blogger Tulungagung untuk membahas proker ke depannya. Hari itu terasa sangat berbeda karena menjadi pengalaman saya yang pertama di pagi hari harus 'mendaki' gunung dengan sepeda mesin saya menuju desa yang bernama desa Geger, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung. Ternyata disana menyimpan pemandangan yang luar biasa. Keasrian pun masih sangat terjaga hingga akhirnya memunculkan kekaguman pada desa ini.

Iya, desa ini digadang-gadang menjadi desa wisata maka dalam seketika seperti ada petir yang menyambar hehe saya pun ikut semangat memulai pembicaraan dengan salah satu tokoh masyarakat disana.

Hhhmm .. ngomong-ngomong dari awal bahasa tulisannya resmi dan tegang banget yaa hehe. Cukup-cukup mari kita kembali ke TKP #eh. Cerita di atas adalah benar adanya. Saya cukup latepost dalam memposting tulisan ini hehe tapi lebih baik ditulis kan yaa dari pada tidak sama sekali? :D

SMK Putra Wilis Sendang
Desa itu membuatku kagum. Pernah liat atau minum air putih yang di dalam kendi tp terasa seperti air es meski tidak dimasukkan ke dalam lemari es? Naaah Anda harus mencoba datang ke tempat ini hehe. Ada sebuah warung disana, namanya "warung gunung". Warung tersebut adalah warung yang dikelola oleh para siswa-siswi SMK Putra Wilis atau mereka menyebutnya "sekolah terpencil".

Mengapa terpencil? Karena memang lokasinya berada di salah satu puncak dari gunung Wilis. Katanya, tidak ada lagi bangunan di atas dari bangunan sekolah ini. Sekolah ini pun dekat dengan obyek wisata yang dikenalkan secara mandiri oleh masyarakat sekitar yang kemudian diberi nama dan dikenal sebagai "Telaga Aqua". Saya sempat bertanya mengapa namanya "Aqua"? Mereka menjawab bahwa di telaga tersebut airnya murni langsung dari sumber mata air dan dapat langsung diminum. Karena kemurniannya itu maka diberi nama tersebut.

Yang menarik perhatian saya adalah pengelolaan sekolah SMKnya. Mereka yang sekolah disana tidak dipungut biaya alias gratiiiis. Iyaa gratis. Kok bisa? Jawabannya itu tadi ada di pengelolaan warungnya. Mereka yang sekolah disana diharuskan untuk tinggal disana karena disana sudah dilengkapi penginapan yang dirintis akan menjadi sebuah pondok pesantren nantinya. Hasil dari warung tersebut digunakan untuk operasional SMK. 

TK

Selain SMK, disana ada juga TK dan MI. Semuanya ada disatu lokasi yang dengan kreatifitas nya mereka mendesain lokasinya menjadi lokasi yang nyaman untuk belajar meski minim fasilitas. Tapi jangan salah. Walaupun disana tidak ada sinyal sama sekali dari operator manapun yang ada di Indonesia, namun semuanya free wifi lhoo. Keren bukan? 

Operasionalnya
Ini lah pelajarannya bahwa ketika pendidikan berjalan bersama dengan kreativitas maka akan menciptakan pendidikan yang luar biasa yang tentunya bersama dengan niat dan tekad yang kuat. Sebagai penutup ada harapan dari salah satu pengelola dari tempat ini yaitu beliau berharap akan tercipta SDM-SDM yang terbaik yang kelak akan membangun daerah ini yang tidak hanya menjadi destinasi wisata baru tetapi juga menjadi daerah yang mampu memberikan inspirasi untuk yang lain.

Foto diambil oleh: Husniati Salma
Menggunakan: Smartphone Xiaomi Redmi 3 Pro

Sabtu, 23 Juli 2016

Let's Move!


Masih menyambung curhatan hati yang kemarin -_- entah mengapa penulis ini sedang ingin mencurahkan kata-kata yang terangkai dalam beberapa kalimat untuk ditulis disini. Kata-kata yang terkadang tidak diketahui dari mana asalnya. Kata-kata yang terkadang tiba-tiba muncul dengan sendiri dibenaknya.



Menulis adalah suatu kegiatan yang menyenangkan memang. Banyak hal yang mempengaruhi keadaan ‘menyenangkan’-nya itu :D Ada mood disana, ada motivasi, ada hal-hal yang lainnya. Yaap, ini semua tentang kebiasaan. Orang bijak berkata bahwa kebiasaan dapat mempengaruhi kesuksesan seseorang. Dan sudah banyak orang yang membuktikannya. Orang-orang besar memiliki kebiasaan kecil yang berbuah besar dan kebiasaan besar yang berbuah semakin besar. Kuncinya apa? TIDAK MENYERAH, kataku :D



Mari kita lihat contohnya, seperti Thomas Alfa Edision sang penemu lampu yang menghabiskan 999 cara untuk mendapatkan lampu yang terbaik. Penemu-penemu muslim, seperti Ibnu Sina, Abbas bin Firnas mereka pun tidak menyerah. Rasulullah Muhammad SAW hingga Muhammad Al-Fatih sang penakluk kota konstantinopel yang sekarang menjadi negara Turki itu, beliau-beliau tidak menyerah. Justru karena ketidakmenyerahnya itu, mereka bisa mencapai kesuksesan.



Iya, penulis menulis hal ini bukan untuk menggurui atau apa. Tulisan ini lebih ditujukan untuk penulis sendiri. Telah lama meninggalkan dunia literasi blog ternyata membuat kangen. Beberapa kali mengikuti seminar dan diskusi kepenulisan untuk mencari semangat itu kembali. Dan semua hasilnya sama, intinya “JANGAN MENYERAH”. Terus asah kemampuan, jadikan itu kebiasaan. Uuuh sungguh, itu tidak mudah. Tidak mudah untuk ditinggalkan selamanya maksudnya hehe #ngeles.



Maafkan jika Bahasa tulisan disini adalah seperti ini. Iya, saya suka dengan gaya tulisan yang seperti ini. Masing-masing penulis tentu memiliki gaya tulisan masing-masing dan masing-masing pembaca memiliki selera tulisannya masing-masing pula. Jadi, terima kasih yang sudah menyukai tulisan-tulisan saya hehe. Doakan yaa, ini masih belajar sambal menemukan dan mematangkan gaya tulisan saya yang terbaik.



 

 
Terkadang, kita memang memerlukan tekanan (ujian) terlebih dahulu untuk menyadari akan suatu hal dan mulai berbenah. Logikanya sederhana, seperti sebuah barang yang berada di papan yang datar maka untuk memindahkannya kita perlu memberikannya tekanan, hal ini sama dengan kita yang sedang berada di comfort zone atau zona kenyamanan, maka agar kita mau berubah terkadang kita perlu untuk ditekan, diberi ujian, dan lainnya untuk mau move bergerak. Keep positive thinking dan #JanganBerhentiBerbuatBaik :D

Diberdayakan oleh Blogger.