Jumat, 29 Juni 2012

Mereka yang selalu tersenyum (^___^)


Jalan raya, tak selalu membawa rasa kegelisahan dan kekhawatiran bagi kita. Dibalik marabahaya yang ada di jalan raya, menyimpan pelajaran berharga yang menginspirasi kita. Terkadang malah membuat kita malu dengan mereka.
Hari kamis malam jum’at tanggal 28 Juni 2012, saya berkesempatan untuk menelusuri jalan raya kota Tulungagung, Jawa Timur, Indonesia. Tidak seperti biasanya, kali ini saya begitu terkagum-kagum dengan sosok yang sederhana dan senyum yang tak pernah hilang dari wajahnya. Sosok yang berada di pinggir jalan itu dengan sabar memberi arahan kepada sopir mobil atau motor yang akan memparkirkan kendaraannya. Ya, dialah seorang juru parkir atau biasa disebut jukir.
Bapak itu mengingatkan saya pada bapak saya sendiri. Subhanallah, itulah pengorbanan seorang bapak/ayah untuk keluarganya. Memikul tanggungjawab member nafkah untuk kebahagiaan istri dan anak-anaknya. Satu hal yang saya suka dari bapak itu, meski hidupnya pas-pasan atau kadang malah kekurangan, beliau senantiasa tersenyum dan tetap bersenda gurau dengan anaknya yang masih kecil. Sungguh, pemandangan yang sangat menyejukkan hati. Saya ikut tersenyum melihatnya.
Di tempat lain yang tak begitu jauh dari bapak jukir itu, ada seorang kakek yang tengah duduk di trotoar jalan. Kakek itu terlihat tak berdaya untuk berdiri. Saya amati kakek itu dengan seksama dan begitu sadar, saya langsung terkaget-kaget seraya berkata dalam hati, “Allahu Akbar, sungguh, kesempurnaan hanya milikmu Ya Allah.” Ternyata kakek itu memiliki fisik yang tak sempurna. Begitu sedih hati ini. Dalam pikiran saya ini penuh dengan pertanyaan-pertanyaan. Kemanakah keluarganya? Apa yang kakek itu lakukan? Mengapa orang-orang disekelilingnya hanya diam saja? Apa yang harus saya lakukan?
Memang, kakek itu sudah berada disitu sejak lama. Setiap pulang sekolah, saya biasa menyempatkan diri untuk menengok kakek itu meskipun tanpa menyapanya. Ya Allah, maafkan hamba. Tetapi saya banyak belajar dari kakek itu. Keterbatasan bukan halangan untuk tetap mencari kehidupan. Kakek itu benar-benar sudah tak berdaya. Kaki dan tangan seperti lumpuh. Mulutnya tak berkata-kata. Namun, saya perhatikan, kakek itu tetap tersenyum. Mungkin tak banyak orang yang tahu jika kakek itu tersenyum, tapi saya melihatnya tersenyum. Dengan harapan yang tak pernah putus serta doa dan usahanya, kakek itu tetap berjuang untuk bisa hidup diantara kerasnya jalanan ini. Subhanallah.
Sayang, saya tak sempat mengambil gambarnya T__T jika ada fotonya mungkin bisa lebih lengkap hehe afwan ... 




Diberdayakan oleh Blogger.