Jumat, 19 Agustus 2016

Teknologi dan Membaca

Akhirnya mengikuti perjalanan yang penuh dengan ilmu baru.  Perjalanan tersebut dimulai ketika saya menginjakan kaki di sebuah stasiun kereta api yang berada di salah satu daerahdi Jawa Timur. Iya, kereta tersebut akan membawa saya ke suatu daerah yang dikenal orang dengan keistimewaannya. Satu-satunya daerah yang diizinkan pemerintah iuntuk menyanddangkan status daerah istimewa dalam pemerintahannya.

Ada beberapa peristiwa sebenarnya, namun kali ini saya akan menceritakan sala satu peristiwa yang terjadi saat saya melakukan perjalanan pulang dari daerah istimewa tersebut.

Pagi hari saya ditemani sahabat menuju stasiun besar, saya melihat banyak sekali para wisatawan mancanegara (wisman) yang sejenak membuat saya bertanya-tanya, "Mereka mau kemana?". Saya menanyakan hal ini kepada sahabat saya, namun ia juga menanyakan hal yang sama dibenaknya. Mengapa hingga demikian? Karena ini tidak biasanya terjadi sselama saya beberapa kali melakukan perjalanan di daerah itu. kali ini saya mendapatkan pemandangan yang tidak biasa.

Dan pertanyaan itu terjawab ketika masuk di dalam gerbong kereta. Salah seorang diantara kami (para penumpang lokal KA tersebut) membuka pembicaraan dengan para wisman yang duduk dihadapannya. Dari situ didapatkan bahwa mereka akan pergi ke G.Bromo via Malang. Wisman tersebut menceritakan pengalamannya menjelajah beberapa negara sebelumnya sebelum akhirnya menjelajah Indonesia Wisman tersebut menyukai Indonesia dengan keramahan masyarakat dan keindahan alamnya. 

Wisman dan Bukunya

Hal baru yang saya temukan dari pengamatan hehe mereka membawa buku. Iya, buku lhoo. Buku apa? Buku wajib mereka saat mengunjungi suatu negara adalah buku panduan pariwisata negara tujuan yang tertulis dalam bahasa Inggris atau bahasa mereka misalnya Jerman, dan sebagainya. Kemudian buku lain adalah buku seperti novel, pengetahuan, dan lainnya. Mereka terlihat sangat suka membawa. Bahkan ada yang membawa hingga lebih dari 3 buku dalam suatu perjalanan. Mereka tidak hanya membawa, tetapi juga membacannya

Ini. Ini yang tidak selalu saya jumpai di negeri sendiri. Bukan bermaksud apa-apa tetapi ini realita yang ada. Saya memang pernah menjumpai orang yang ketika menunggu atau naik kendaraan umum, mereka akan membaca buku. Iya, tetapi "jarang." 

Bukan mau menyalahkan atau apa, saya juga ikut dalam usaha membudayakan membaca lewat suatu komunitas di daerah tempat saya tinggal. Dan terasa sekali perjuangannya. Tidak mudah, karena jaman yang memang sudah mulai berubah dengan adanya perkembangan signifikan dalam bidang teknologo. "Seolah" buku cetak tergantikan dengan adanya smarphone yang bisa menyimpan lebih banyak buku dalam bentuk elekttoik atau yang biasa disebut "e-book".

Melalui studi kunjungan yang saya lakukan bersama komunitas yang saya ikuti di suatu daerah dimana sekolahnya memanfaatkan teknologi untuk pembelajarannya, saya mendapat pesan seperti ini, "duania memang sudah muklai berubah, dimana kita masuk di era paperless. Kita tidak bisa menyalahkan perkembangan teknologi, yang harus kita lakukan adalah memanfaatkannya dengan baik. Handphone ini sangat mudah menjerumuskan kita dalam hal keburukan, maka tugas kita sekarang adalah bagaimana membuatnya membawa kita dalam kebaikan."

Dua kisah yang memiiki kaitan. Dua kisah yang memberikan inspirasi. Sampai sekarang oun saya masih terus belajar untuk hal ini. Dari pengalaman ini, saya ingin berbagi dengan semuanya. karena ilmu yang baik adalah ilmu yang bisa memberikan manfaat untuk orang lain. Yaa, kali saja, kisah saya bisa membawa kebaikan, paling tidak, kita bisa membacanya bersama-sama hehe.

Oh iyaa, maafkan saya jika kurang dalam mengupdate blog saya ini. Tulisan-tulisan saya tetap bisa dibaca dan diikuti di social media saya kok :D

Terima kasih kepada Anda yang masih stia dengan blog saya yang sederhana ini. Terakhir, dirgahayu Republik Indonesia yang ke-71. ^_^

-HS-

Jumat, 05 Agustus 2016

Ketika Pendidikan dan Kreativitas Berjalan Bersama

Cerita berawal dari pertemuan bersama blogger Tulungagung untuk membahas proker ke depannya. Hari itu terasa sangat berbeda karena menjadi pengalaman saya yang pertama di pagi hari harus 'mendaki' gunung dengan sepeda mesin saya menuju desa yang bernama desa Geger, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung. Ternyata disana menyimpan pemandangan yang luar biasa. Keasrian pun masih sangat terjaga hingga akhirnya memunculkan kekaguman pada desa ini.

Iya, desa ini digadang-gadang menjadi desa wisata maka dalam seketika seperti ada petir yang menyambar hehe saya pun ikut semangat memulai pembicaraan dengan salah satu tokoh masyarakat disana.

Hhhmm .. ngomong-ngomong dari awal bahasa tulisannya resmi dan tegang banget yaa hehe. Cukup-cukup mari kita kembali ke TKP #eh. Cerita di atas adalah benar adanya. Saya cukup latepost dalam memposting tulisan ini hehe tapi lebih baik ditulis kan yaa dari pada tidak sama sekali? :D

SMK Putra Wilis Sendang
Desa itu membuatku kagum. Pernah liat atau minum air putih yang di dalam kendi tp terasa seperti air es meski tidak dimasukkan ke dalam lemari es? Naaah Anda harus mencoba datang ke tempat ini hehe. Ada sebuah warung disana, namanya "warung gunung". Warung tersebut adalah warung yang dikelola oleh para siswa-siswi SMK Putra Wilis atau mereka menyebutnya "sekolah terpencil".

Mengapa terpencil? Karena memang lokasinya berada di salah satu puncak dari gunung Wilis. Katanya, tidak ada lagi bangunan di atas dari bangunan sekolah ini. Sekolah ini pun dekat dengan obyek wisata yang dikenalkan secara mandiri oleh masyarakat sekitar yang kemudian diberi nama dan dikenal sebagai "Telaga Aqua". Saya sempat bertanya mengapa namanya "Aqua"? Mereka menjawab bahwa di telaga tersebut airnya murni langsung dari sumber mata air dan dapat langsung diminum. Karena kemurniannya itu maka diberi nama tersebut.

Yang menarik perhatian saya adalah pengelolaan sekolah SMKnya. Mereka yang sekolah disana tidak dipungut biaya alias gratiiiis. Iyaa gratis. Kok bisa? Jawabannya itu tadi ada di pengelolaan warungnya. Mereka yang sekolah disana diharuskan untuk tinggal disana karena disana sudah dilengkapi penginapan yang dirintis akan menjadi sebuah pondok pesantren nantinya. Hasil dari warung tersebut digunakan untuk operasional SMK. 

TK

Selain SMK, disana ada juga TK dan MI. Semuanya ada disatu lokasi yang dengan kreatifitas nya mereka mendesain lokasinya menjadi lokasi yang nyaman untuk belajar meski minim fasilitas. Tapi jangan salah. Walaupun disana tidak ada sinyal sama sekali dari operator manapun yang ada di Indonesia, namun semuanya free wifi lhoo. Keren bukan? 

Operasionalnya
Ini lah pelajarannya bahwa ketika pendidikan berjalan bersama dengan kreativitas maka akan menciptakan pendidikan yang luar biasa yang tentunya bersama dengan niat dan tekad yang kuat. Sebagai penutup ada harapan dari salah satu pengelola dari tempat ini yaitu beliau berharap akan tercipta SDM-SDM yang terbaik yang kelak akan membangun daerah ini yang tidak hanya menjadi destinasi wisata baru tetapi juga menjadi daerah yang mampu memberikan inspirasi untuk yang lain.

Foto diambil oleh: Husniati Salma
Menggunakan: Smartphone Xiaomi Redmi 3 Pro
Diberdayakan oleh Blogger.