Selasa, 03 Oktober 2017

Istimewa Itu Tak Harus Mewah

Pagi itu terasa berbeda ketika akan melakukan perjalanan menuju Kecamatan Panggul, Trenggalek dari Tulungagung. Langit layu, tetesan air mulai turun menemani perjalanan sejak dari Durenan, Trenggalek. Cuaca yang seperti itu justru memberikan kesan yang tak terlupakan karena kesyahduan yang ditawarkan sepanjang perjalanan. Kesan itu berlanjut hingga perjalanan dari Wonocoyo, ibu kota Kecamatan Panggul menuju Desa Manggis. Perjalanan yang terasa panjang itu masih harus ditambahkan kembali dalam perhitungan waktu. Sekitar 15-20 menit kemudian akhirnya sampai di Desa Manggis.
Dulu, sebelum KKN (Kuliah Kerja Nyata) IAIN Tulungagung dilaksanakan, saya bertanya-tanya “Panggul itu seperti apa?” Mayoritas orang akan berpikir bahwa Panggul itu “ndeso” baik dalam masyarakatnya maupun pemikirannya. Saya sempat melakukan riset kecil yaitu mencari tahu letak Panggul di dalam peta. Dalam benak saya, daerah ini pasti akan menantang sekali karena daerah ini berada di bagian Selatan Kabupaten Trenggalek dan dikenal sebagai daerah rendah menuju pantai. Pantai lho, iya, pantai. Jadi, kalau kamu mau petualangan di gunung, pantai, menikmati keramahan masyarakat, kehangatan sambutan mereka, dan merasakan kehidupan desa yang masih benar-benar terjaga, kamu harus kesini.
Desa Manggis adalah desa yang istimewa bagi saya. Sekitar dua per tiga wilayahnya adalah dataran tinggi dengan beragam tingkat kecuramannya. Terdiri dari tiga dusun yang menjadi penyangganya yaitu Dusun Krajan yang menjadi pusat pemerintahan, Dusun Petung, dan Dusun Pagerwatu yang berada di dataran tinggi. Pertama kali menginjakkan jejak di desa ini, satu kata yang bisa terucap yaitu ISTIMEWA. Ungkapan itu tidak berlebihan. Bagi saya, keistimewaan desa ini ada di beberapa aspek. Aspek pertama dan yang paling saya sukai adalah keistimewaannya dalam bertetangga. Ini lah yang jarang saya temukan di daerah-daerah lain di jaman sekarang. Keistimewaan kehidupan bertetangga ini begitu kental terasa, misalnya pada saat salah satu dari mereka memiliki hajat baik kecil maupun besar, mereka akan dengan senang hati mengundang dan berbagi. Kemudian, saat salah satu ada kesulitan, maka yang lain akan dengan ringan tangan membantu. “Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, keluarga, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga jauh” (QS Al-Nisa (44): 36). Hidup bersahaja dengan berbagi dan bertetangga. Sederhana tapi memberikan kesan luar biasa.
Keistimewaan kedua adalah semangat anak-anak Desa Manggis yang meski dengan keterbatasan disertai akses jalan yang bagi saya cukup menguras keringat, tapi mereka sangat antusias dalam belajar baik di sekolah maupun di TPQ (Taman Pendidikan Al-Qur’an). Dengan belajar, mereka berharap bisa membaca dan mampu bersyahadat ketika meninggal dunia. Masya Allah. Harapan yang sederhana, tetapi justru itu yang sangat bernilai. Ketika kami membuka bimbingan belajar untuk SD di posko, sepulang sekolah, mereka berbondong-bondong datang berboncengan naik sepeda maupun jalan kaki. Kagumnya, mereka yang datang bukan hanya yang bertempat tinggal disekitar posko, tetapi juga dari RT-RT lain yang jaraknya lumayan.
 Meski berada di desa yang bisa dibilang jauh dari hiruk pikuk kehidupan gemerlap perkotaan, kesadaran akan kesehatan dari indikator tingkat kepercayaan masyarakat dan pelayanan tenaga kesehatan yang memadai adalah baik. Saya kagum dengan semangat para tenaga kesehatan khususnya dari bidan desa, asisten bidan desa dan perawat desa dalam kepekaan sosial dan ketanggapannya melayani masyarakat. Dengan telaten, para tenaga medis desa memberikan pelayanan maksimal bagi masyarakat. Posyandu berjalan baik setiap bulan, para kader posyandu pun semangat dalam menjalankan program mereka. Tidak hanya itu, screening kesehatan untuk anak-anak sekolah pun dilakukan dengan baik dan terjadwal. Keramahan dan senyum yang tak pernah hilang dari raut para tenaga medis menurut saya menjadi salah satu motivasi tersendiri hingga masyarakat merasa nyaman berinteraksi.
Pernahkah membayangkan bagaimana kondisi para lansia di desa ini? Mereka kuat, sehat, dan murah senyum. Bahkan ada yang terheran-heran melihat ada lansia yang berlari ketika menuruni jalan raya. Kehangatan senyuman, saya rasa itu lah rahasia mereka. Kehidupan bertetangga yang sehat, memupuk tali persaudaraan yang kokoh, hidup menjadi indah, tanpa beban, tanpa keluhan. Karenanya mereka senang sekali membantu, tersenyum, dan bersyukur.
Maka, keistimewaan ini jangan sampai luluh dan pudar oleh kekuatan perubahan jaman. Yogyakarta istimewa karena kearifan lokal yang masih menjunjung tinggi keraton dan budaya Jawa, tapi Desa Manggis memiliki segala keistimewaan itu. Tugas kita bersama adalah terus memegangnya, memperdayakan masyarakatnya, mengenalkan potensi daerahnya, dan memajukan daerahnya dengan pendidikan dan ekonomi sektor pariwisata yang utama. Potensi itu ada, hanya kendala pada pemanfaatan dan keterbukaan pikiran masyarakat khususnya pemerintah desa. Anak-anak desa ini membutuhkan perhatian. Mereka memiliki modal semangat belajar, sehingga ketika hal ini difasilitasi dan diperhatikan tentu akan menghasilkan generasi gemilang pada akhirnya. Mereka juga memiliki modal kreatifittas dalam menciptakan permainan tradisional. Maka ketika semua hal ini bisa dilestarikan dan ditambahkan dengan kondisi masyarakat yang masih terjaga kebudayaannya, desa ini bisa menjadi salah satu destinasi wisata yang harus dicoba oleh para wisatawan untuk belajar budaya ketimuran Indonesia. Karena istimewa itu tak harus mewah, cukup jaga ciri khas itu, lestarikan, dan “viral”kan.
Manggis, Panggul, Trenggalek
Dari kehangatan dekapan ukhuwah
KKN IAIN Tulungagung 2017

Upacara 17 Agustus di Puncak Senggani, Desa Manggis

Grup Jaranan Desa Manggis

Sosialisasi

Gerak Jalan Lansia Desa Manggis

Minggu, 07 Mei 2017

Petualangan Meraih Bintang

Aqila (9 tahun) adalah anak yang sangat gandrung pada sains namun kurang punya minat belajar Al Qur’an.  Aqila memiliki seorang kakek yang berprofesi sebagai astronom dan tinggal di Pusat Peneropongan Bintang Boscha. Aqila bermaksud membuat tugas sekolahnya yang berhubungan dengan astronomi, Kakeknya memberi izin pada Aqila untuk menggunakan teropong bintang di Boscha untuk menyelesaikan tugasnya, namun dengan satu syarat: Aqila harus bisa membaca Al Qur’an. Aqila menyanggupinya. Saat di rumah kakeknya Aqila bertemu Ros, anak dari seorang pembantu di sana. Ros mengajaknya bermain di sebuah masjid.  Di masjid inilah Aqila belajar membaca Al Qur’an dengan metode Iqro, yang fun, berirama dan dibawakan secara ringan. Pengalaman Aqila belajar Al Qur’an dan teladan dari kakeknya Inilah yang  menggugah mata hatinya, tentang kebesaran Allah SWT yang menciptakan alam semesta.

Film IQRO
Di atas adalah synopsis dari film IQRO: Petualangan Meraih Bintang yang diproduksi oleh Masjid Salman ITB dan Salman Film Academy, karya sutradara Iqbal Alfajri. Film tersebut mulai tayang di bioskop Indonesia pada tanggal 26 Januari 2017. Film yang cukup menyita perhatian saya karena membawa jalan cerita yang sederhana tapi dengan nasehat yang luar biasa. Dan benar saja, Alhamdulillah mendapat kesempatan untuk bisa menikmati film ini di Golden Theatre Tulungagung, sebuah nonton bareng (nobar) yang diselenggarakan oleh Pena Ananda Club bersama anak yatim, saya dibuat menitikkan air mata dengan cerita dan murottal yang menghiasi film tersebut.


Salah Satu Adegan dalam Film IQRO

Suasana Seusai Nobar

Suasana Seusai Nobar
Bagi saya, film ini bukan sekedar film yang memberikan hiburan, tetapi juga tuntunan yang baik terutama untuk anak dan keluarga untuk terus belajar dan tidak lupa dengan ibadah. Selain itu, film ini mengajarkan untuk berbuat baik pada sesama dan kepada orang yang lebih tua.

“Kamu tahu Aqila bagaimana ibumu bisa mendapatkan nilai baik di sekolah? Rahasianya adalah shalat subuh. Setiap setelah shalat subuh, ibumu akan belajar, dan belajar pada saat itu adalah waktu terbaik karena pikiran masih fresh sehingga ilmu akan lebih mudah dikuasai.”
Kurang lebih seperti itu, dialog yang paling berkesan yang selalu saya ingat.

Anyway, ini film recommended banget. Karena ilmu itu harus dijemput bukan ditunggu. Yahya bin Abi Katsir Al-Yamani berkata: “Ilmu itu tidak bisa didapat dengan jasmani yang santai.” (Riwayat Muslim dalam kitab Masajid Bab Auqat Ash-Shalawat Al-Khams, lihat Jami’ Bayanil ‘Ilmi dengan tahqiq Abul Asybal no. 553).
Diberdayakan oleh Blogger.